7 Tips Cara mendidik anak yang baik menurut islam

cara mendidik anak Keprihatin orang tua saat ini sangatlah wajar melihat prilaku dan akhlak seorang anak secara umum yang didominasi oleh kemerosotan akhlak dan moral. Seorang anak memerlukan bimbingan yang serius tidak paruh waktu apalagi diserahkan pada pembantu karena pada masa ini anak-anak sedang  membentuk  jiwa dan membentuk karakternya. Maka, jika pada saat-saat kritis ini mendapat perhatian secara seimbang, akan melahirkan menusia ideal di masa yang akan datang, bahkan , dalam kehidupannya secara menyeluruh. Tapi sebaliknya, bila perhatian yang diberikan terlalu besar atau kurang, akan melahirkan karakter yang tidak baik pada akhirnya. Perhatian yang berlebihan pada anak akan menjadikan  kepribadianya lemah dan manja. Ia tidak mampu memikul beban dan tanggung jawab hidup dengan kesungguhan dan optimisme. Begitu pun ketika porsi perhatian ini kurang, akan menjadikan anak egois dan anarkis terhadap lingkungan.

Dalam banyak kesempatan kita malah sibuk atau tersibukkan dengan “alasan” pekerjaan. Ini contoh nyata ketika saya berbelanja ke sebuah toko grosir besar yang banyak pembelinya, terlihat si pemilik toko seorang Bapak dan dibantu Istrinya sibuk melayani para pembeli. kemudian datang anaknya sambil menuntun sepeda dan berkeringat,

Anak: ayah minta uang…

Ayah: uang terus barusan kan udah lima ribu

Anak:  udah abis yah di pake jajan….

Ayah: ya udah neh dua ribu….

Anak: enggak mau dua ribu mah

Ayah : ya udah nih lima ribu sono main

Akhirnya si anak ini main dengan membawa sepedahnya

Si bapak ini bercerita susah pak anak sekarangmah dikasih dua ribu maunya lima ribu. Pusing…bentar-bentar minta jajan..tiap pulang minta lima ribu.

Si Bapak ini tidak pernah nanya uang yang lima ribu itu dipakai apa, yang penting anak gak nangis dan sibapak bisa melanjutkan jualannya. Padahal uang itu dipake sianak main game online di warnet, Tanpa pengawasan orang tuanya. Kasus kedua di kereta ada seorang ibu yang asik memainkan gagetnya sementara dua anaknya kira-kira usia 10 tahun dan 6 tahun bercanda dorong-dorongan dan tendang-tendangan sehingga mengganggu pengguna kereta yang lain, sayangnya si ibu ini masih tetap asyik memainkan gagetnya, bahkan ketika anaknya menyapa dan menghampirinya, tetap perhatian dan sorotmata si ibu ke gagetnya bahkan anaknya itu di pukul kepalanya.

Kisah – kisah nyata ini mungkin juga terjadi pada kehidupan kita Karenanya mendidik dalam islam mempunyai peranan penting dalam pembentukan jiwa anak. Pembentukan ini memainkan peran yang tidak kecil dari kita sebagai orang tua, karea orang tualah sumber utama tumbuhnya kepribadian pada jiwa anak. Orang tualah tonggak bagi anak untuk bernaung, dengan harapan, merasakan kehangatan jiwa dan kasih sayang ayah serta ibu. Mendidik anak laki laki berbeda dengan mendidik anak perempuan, begitu juga cara mendidik anak usia 2 tahun berbeda dengan cara mendidik anak remaja

Kemudian, bagaimana seharusnya cara mendidik anak secara islami, sehingga mereka menjadi manusia yang ideal dalam kehidupannya? Berikut adalah 7 Tips Cara mendidik anak dalam Islam

Pertama:

Memberi perhatian, ciuman dan kasih sayang.

Ciuman bukan hanya perlakuan pisik dan basa basi tapi ciuman berperan aktif dalam menggerakan perasaan dan kejiwaan anak, sebagaimana ia mempunyai peran besar dalam menenangkan gejolak dan gelora jiwa anak serta kemarahanya. Selain itu ciuman akan melahirkan ikatan yang kuat dalam menumbuhkan kasih sayang antara yang tua dengan yang lebih muda.

Ciuman merupakan dalil adanya perasaan kasih sayang dalam hati kepada anak yang sedang tumbuh. Ia adalah bukti dari kerendahan hati orang yang lebih besar kepada yang kecil. Ia merupakan cahaya penerang dalam hati anak, melapangkan jiwa, dan menambah semangat interaksinya dengan orang yang ada di sekitarnya.bukan ciuman yang ala kadarnya, mencium anak ketika anak masih terlelap dalam tidurnya dan orang tua siap berangkat bekerja bukan juga ciuman malam hari ketika kita dapati anak kita sudah tertidur lelap dikursi tamu  menunggu kedatangan kita yang seharian bekerja, ciuman yang menghadirkan cinta dan kehadiran raga bercerita berpandangan dan bertegur sapa. Dari semua itu, ciuman pada intinya adalah sunnah Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam.

Imam Bukhari dan muslim meriwayatkan bahwa Aisyah ra. Berkata,

Beberapa orang Arab badui datang kepada Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam. Mereka bertanya, Apakah kalian mencium anak-anak kalian? Ya, jawab Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam. Tapi kami, Demi Allah, sekali-kali tidak pernah mencium mereka (anak-anak kami).’ Maka Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam. Bersabda, ‘saya tidak memiliki kekuatan, sekiranya Allah subhanahuwata’ala. Mencabut perasaan kasih sayang dari hati kalian.’’

Bukhari dan muslim meriwayatkan  bahwa Abu Hurairah ra. Berkata, “ Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam. Mencium cucunya, hasan ibnu ali. Kemudian ada seorang sahabat yang bernama Al-Aqra’bin haris melihatnya, dan ia berkata ‘ saya memiliki sepuluh orang anak, dan sekali-kali saya belum pernah memberikan ciuman kepada salah satu di antara mereka.’ Maka Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan di sayangi.’

Ibnu Asakir meriwayatkan bahawa anas ra. Berkata, “ Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam. Adalah orang yang paling mengasihi dan menyayangi anak-anak dan orang miskin”

Sesungguh nya bemberikan kasih sayang dan kelembutan kepada anak merupakan bagian dari sifat kenabian. Ia adalah salah satu jalan menuju syurga dan kesuksesan meraih ridho Allah swt.

Imam Bukhari meriwayatkan bahwa anas ra. Berkata “ Ada seorang wanita datang kepada Aisyah ra. Maka ia (‘Aisyah) memberikannya tiga butir kurma. Maka wanita tersebut memberikan kepada tiap anaknya satu buah kurma. Dan satu buah untuk dirinya. Satelah kedua anaknya memakan buah kurma tadi, mereka memandang ibunya. Dan sang ibu merasakan kedua anaknya meminta kurma yang di bawanya. Maka ia membagi kurma tersebut menjadi dua untuk anaknya. Setelah Nabi salallahu ‘alaihi wassalam. Tiba, Aisyah radiallohuanha menceritakan peristiwa yang baru terjadi, maka Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Sungguh mengagumkan perbuatan tersebut.dan sungguh Allah subhanahu wata’ala menyanyanginya sebaimana ia menyayangi anaknya.”

Gambaran lain dari kasih sayang Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam. Kepada anak-anak adalah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dari anas radiallohuanhu.

“Sungguh ketika saya dalam shalat dan ingin memanjangkannya tiba-tiba aku mendengar suara tangis seorang anak. Maka aku menyegerakan shalatku, karena aku tahu bagaimana kagundahan seorang ibu dari tangisan anaknaya.’’ (diriwayatkan oleh lima orang perawi, kecuali Abu Daud)

Abi Qatadah ra. Berkata, “Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam sedang shalat bersama para sahabat, sedang beliau menggendok Umamah binti Zainb binti Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam. Ketika beliau sujud, ia meletakan Umamah, dan ketika beliau berdiri, ia menggendongnya kembali.” (Diriwayatkan lima perawi, kacuali At-Tirmidzi)

 

Gambaran lain dari besarnya kasih sayang seseorangkepada anaknya adalah apa yang di ceritakan Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam. Imam Ahmad,Bukhari dan Muslim dalam sahihnya serta Nasa’I meriwayatkan bahawa Abu Hurairah ra. Berkata Bahwa Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam. Bersabda, “ Ada dua orang wanita, bersama dengan anaknya masing-masing. Tiba-tiba datang binatang buas, menerkam, dan membawa salah satu di antara dari anak mereka. Maka kedua wanita tersebut mengadukan permasalahannya ke Nabi Daud dan beliau memutuskan anak yang masih hidup untuk wanita yang lebih tua. Kemudian keduanya keluar. Tiba-tiba sulaiman memanggil keduanya dan berkata ‘Berikan aku pisau, dan aku akan membagi anak ini untuk kalian berdua.’ Wanita yang lebih muda berkata, ‘Semoga Allah merahmatimu. Dia adalah anaknya, janganlah kamu membelahnya. ‘kemudian Sulaiman memutuskan anak tersebut untuk wanita yang lebih muda.’’

Maha benar Allah subhanahu wata’ala. Yang telah memberitakan tentang sulaiman dalam firman-Nya,’’Dan kami baerikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.’’ (QS.38:20)

Coba kita perhatikan pada cerita tersebut, bagaimana kekerasan hati seorang ibu yang lebih tua. Ketika seekor binatang buas menerkam dan memakan anaknya, tidak sedikit pun kesedihan terlihat pada raut mukanya. Bahkan, terlihat kekerasan yang tidak tergambarkan oleh siapapun. Ia pun merebut untuk anak saudarinya. Secara logis, tidak ada anak yang benar-benar sama, sebagaimana tidak masuk akal seorang ibu tidak bisa membedakan anaknya dari anak yang lain. Maka, hadits ini menggambarkan kekerasan hati seorang ibu yang lebih tua dan kasih sayang seorang ibu lainya yang lebih muda.

 

kedua

Bermain dan bercanda dengan anak

Marilah kita selami sejenak sabda-sabda Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam. Untuk mengambil pelajaran darinya tentang bagaimana Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam bermain dan bercanda dengan anak anak. Sekiranya orang tua tidak melakukan perbuatan ini karena sebuah kewajiban pendidikan, mereka pun masih di tuntut untuk mengikuti sunnah Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam.

At-Thabrani meriwayatkan bahwa jabir ra. Berkata, “kami bersama Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam. Dan beliau mengundang kami untuk makan. Sementara itu cucunya husain sedang bermain di jalan bersama anak anak lainya. Lalu, Nabi salallahu ‘alaihi wassalam segera menuju ke arahnya. Beliau membentangkan tangannay dan membuat husai lari kesana kemari. Dan Nabi salallahu ‘alaihi wassalam mengajaknya bermain dan bercanda sehinga ia (Husain) bisa menangkap Nabi salallahu ‘alaihi wassalam. Setalah itu, Nabi salallahu ‘alaihi wassalam meletakan salah satu tangan di dagunya dan yang satunya di antara kepala dan kedua telinganya. Kemudian bilau memeluk Husain dan menciumnya sambil berkata, ‘Husain adalah bagian hidupku dan akupun bagian dari hidupnya. Allah akan mencitai siapa yang mencintainya Hasan dan Husain adalah dua cucuku dari cucu-cucuku yang lain.

Imam bukhari meriwayatkan dalam kitabnya Al-adabul mufrid dan At-Tabrani bahwa Abu hurairah ra. Berkata, “Saya mendengar dengan kedua telingaku dan melihat dengan kedua mataku, Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam.Memegang dengan kedua tangannya, kedua telapak cucunya Hasan atau Husain, dan kedua telapak kaki mereka diatas telapak kaki Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam. Kemudian Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam berkata,’ Naiklah’ Maka keduanya naik hingga kedunya meletakan kedua kakinya di dada Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam., kemudian Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam berkata, ‘Bukalah mulutmu’ kemudian beliau menciumnya. Nabi salallahu ‘alaihi wassalam pun berkata Ya Allah, saya mencintainya, dan sungguh saya mencintainya.’’

Imam Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi Dan Abu Daud Meriwayatkan bahwa Anas ra. Berkata “Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam. Adalah manusia yang terbaik akhlaknya. Dan saya mempunyai saudara, yang Bernama Abu Umair (baru di sapih). Ketika datang kepada kami, beliau bertanya “Ya Abu Umair, apa yang di lakukan nughair (burung kecil yang menjadi teman bermainya)?”

Dalam riwayat Imam Ahmad (3/188,201-212) dari anas ra. “Bahwasanya Nabi salallahu ‘alaihi wassalam masuk menemui Ummu sulaim. Ia mempunyai  seorang anak dari Abi Thalhah, Yang di panggil dengan  nama Abu Umair. Dan Nabi salallahu ‘alaihi wassalam melihatnya sedang bersedih, maka beliau bertanya Aku tidak pernah melihat Abu Umair dalam kesedihan seperti ini. ‘Mereka menjawab, ‘Burung kecil, temannya mati.’ Maka Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam berkata, Ya Abu Umair apa yang terjadi pada nughair?’’

Al-Hafdz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menerangkan di perbolehkanya bercanda. Kebolehannya adalah sunnah bukan rukhsah. Bercanda dengan anak yang belum baligh hukumnya boleh, begitu pun mengulangi kunjungan kepadanya, karena sikap itu akan menghilangkan takabur dan untuk membedakan, ketika di luar rumah, ia berlaku tawadhu dan ketika di dalam rumah ia bercanda.

Abdillah Ibnu syaddad berkata, “ Tatkala Rasulallah shalat bersama para sahabat, tiba-tiba datang Husain, dan naik di punggung beliau ketika sedang sujud. Maka Nabi salallahu ‘alaihi wassalam memanjangkan sujudnya, sehingga sehingga para sahabat mengira telah terjadi sesuatu. Ketika selesai shalat, mereka bertanya, “Ya Rasulallah, engkau tadi telah memanjangkan sujud, dan kami mengira terjadi sesuatu? “Maka Nabi salallahu ‘alaihi wassalam menjawab, “tadi cucuku Husain sedang menaiki punggungku dan saya tidak ingin Mengejutkanya sehingga ia telah merasa puas dengan perbuatanya.”

Para sahabat pun mengikuti dan meniru Rasalullah salallahu ‘alaihi wassalam. Mereka mulai bercanda dan bermain dengan anak-anak mereka, ketika memasuki rumah mereka.

Ad-Dailami dan Ibnu Asakir meriwayatkan bahwa Abu Sufyan berkata, “Saya masuk menemui Mu’awiyyah. Pada saat itu ia sedang berbaring. Di dadanya duduk dua anak laki-laki dan perempuan sedang bermain. Aku bertanya, ‘Apa yang engkau lakukan ini wahai Amirul Mukminin?. Ia menjawab bahwa Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Barang siapa mempunyai anak kecil, bercandalah dan bermainlah dengan mereka.

Umar ra. Berkata, “Hendaklah seseorang berada di tengah-tengah keluarganya seperti anak kecil, dalam arti penuh kasih, bercanda dan bermain dengan anak-anaknya. Tapi, ketika tersentuh kehormatannya, ia akan menjadi lelaki sejati.

Umar ra memecat salah satu pegawainya dari satu jabatan, karena beliau melihat bukti nyata akan kekerasan hati pegawai itu kepada anak-anaknya.

Muhammad Ibnu Salam berkata, “Umar memecat seseorang dari pekerjaannya, ketika ada seseorang dia mencium anaknya, lalu berkata, ‘Engkau menciumnya, padahal engkau Amirul mikminin. Sekiranya aku jadi engkau, pasti tidak akan melakukan itu.’’

Umar ra menjawab, “Apa dosaku, seandainya telah dicabut dari hatimu perasaan kasih dan sayang. Sesungguhnya Allah swt. Tidak akan menyayangi hamba-Nya kecuali orang orang yang mempunyai sayang. “kemudian Umar memecat dia dari pekerjaannya dan berkata, “Kamu tidak menyayangi anakmu, bagaimana kamu akan menyayangi orang lain?.

Dengan canda dan bermain inilah Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam. Berinteraksi dengan anak-anak. Beliau mengisi dan memenuhi jiwa mereka dengan perasaan yang tulus dan kasih sayang yang tidak di buat-buat jauh dari sikap kasar.

Ketiga

Memberikan Hadiah, Penghargaan dan Pujian kepada Anak

Hadiah dan penghargaan mempunyai pengaruh yang baik pada diri manusia secara umum. Pada diri seorang anak, hal ini akan lebih berpengaruh dan bermanfaat. Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam sendiri meletakan kaidah dalam dalam mencintai sesama, dengan nasihatnya,

“Saling memberi Hadiahlah, maka kalian akan saling Mencintai.

Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam menjelaskan kepada kita secara aplikatip prinsip ini dalam membangun, mengarahkan, dan mendidik jiwa serta perasaan anak.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radiallohuanhu bahwa sesungguhnya sulallah salallahu ‘alaihi wassalam. Setiap awal panen di beri buah-buahan beliau berdoa.

Ya Allah berkahilah kami di negri kami dan dalam buah-buahan kami dalam mud kami dan dalam sha’kami dengan keberkahan”. Kemudian Rasulallah memberikannya kepada anak kecil yang hadir.

At-Tabrani meriwayatkan dari ishaq Ibnu yahya Ibnu Thalhah di dalam masjid kemudian As-Saib Ibnu yajid masuk mesjid. Pamanku mengutusku untuk menemuinya dengan berkata, ‘pergilah ke orang tua itu dan katakan kepadanya, “Pamanku bertanya kepadamu, apakah engkau melihat Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam?

Maka aku segera menemuinya dan berkata kepadanya, “Apakah Anda melihat Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam? “Ya saya melihatnya” jawabnya. Maka saya masuk menemui Rasulallah salallahu ‘alaihia wassalam dengan seorang anak kacil bersamaku. Kami mendapati Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam sedang makan kurma dan bersama para sahabat. Lalu, Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam mengambilkan kurma untuk kami dan mengusap kepala kami.

Ibnu Abid Dunya meriwayatkan bahwa Al-Hasan atau jabir Ibnu Abdillah Berkata “ Saya shalat dzuhur atau sar bersama Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam selesai salam beliau bersabda kepada kami, ‘Tetaplah di tempat kalian. Beliau berkata lagi, Bejana yang berisi manisan. Kemudian beliau membagikan manisan tersebut sesendok kepada setiap orang yang hadir ketika sampai kepadaku (pada saat itu saya masih anak-anak), beliau memberiku satu sendok kemudian berkata, ‘Apakah kamu ingin tambah? Ya Jawabku.

Maka beliau menambah satu sendok dan berkata kembali, Apakah kau mau tambah?’ ‘Ya jawabku. Maka Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam memberiku satu sendok lagi dan itu terus dilakukan Nabi salallahu ‘alaihi wassalam hingga sampai pada sahabat terakhir.’’ (Hadits Mursal. Para perawinya tsiqot. Ia berkata:Abu syekh meriwayatkan bahwa  dalam Akhlaqun Nabi salallahu ‘alaihi wassalam. Hlm. 235)

Abu Daud meriwayatkan bahwa Aisyah ra berkata “Ada beberapa hadiah kiriman dari Najasyi. Di dalamnya ada cincin emas dan batu cincin dari Habasyah. Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam mengambil dengan kayu atau dengan beberapa jarinya, kemudian memanggil cucunya, Umamah binti Abil Ash dari anak Zainab,dan berkata, ‘Berhiaslah dengan ini wahai cucuku.”’

ke empat

Mengusap kepala anak

Dalam zawaid, Ibnu Hibban dari anas ra., ia berkata

“Bahwa Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam mengunjungi sahabat anshar. Ia mengucapkan salam kepada anak-anak dan mengusap kepala mereka.

Mus’ab Ibnu Abdillah ra berkata, “Abdullah Ibnu Tsa’labah dilahirkan empat tahun sebelum hijriah. Dia dibawa ke hadapan Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam. Beliau mengusap wajahnya dan memberkahinya pada tahun penaklukan Mekah. Pada saat Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam wafat ia berumur 14 tahun. “(Diriwayatkan Al-Hakim dalam Al-mustadraknya 3/379)

Abdillah Ibnu Ja’far ra berkata, “Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam mengusapkan tangannya di kepalaku. Ketika mengusap kepalaku, beliau berkata, “Ya Allah gantikanlah Ja’far dalam keturunannya.” (Hakim meriwayatkan dalam Al-Mustadrak 1/372)

Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam menambahkan, di samping mengusap kepala anak, beliau juga kedua pipi mereka. Semua itu tidak lain merupakan wujud perhatian dan pemberian kebahagiaan dalam hati anak.

Imam Muslim meriwayatkan bahwa Jabir Ibnu Samrah (Termasuk anak- anak sahabat) berkata, “Saya shalat dzuhur bersama Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam kemudian beliau keluar  menemui keluarganya, dan saya bersamanya. Rasulallah bertemu dua orang anak, kemudian beliau mengusap kedua pipi mereka berdua.”  Jabir mengatakan, “Maka Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam mengusap kedua pipiku, aku rasakan dari tangannya kesejukan dan bau yang harum, seakan-akan kedua tangannya baru keluar dari bejana minyak wangi.”

Dengan Hadits ini, kita berdalil, diperbolehkannya mengusap pipi anak, jika mereka lebih dari satu, dengan tetap berlaku adlil dan bijaksana dalam berinteraksi dengan mereka dan tidak membeda-bidakannya.

kelima:

Menyambut anak dengan kehangatan

Bertemu dan bergaul dengan anak adalah suatu  keharusan. Dan pertemuan yang paling berkesan adalah pada detik detik awal. Jika pertemuan berjalan dengan baik, maka anak akan mampu mengikuti per cakapan dan pembicaraan. Anak akan mulai membuka jiwanya, dan mengungkapkan permasalahannya. Semua itu akan terealisaai ketika seorang anak mendapatkan sambutan yang baik, dengan penuh perasaan cinta dan sayang. Inilah yang di serukan Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam. Kepada umatnya untuk di peraktekkan.

Ibnu Asakir meriwayatkan bahwa abdillah Ibnu Ja’far ra. Berkata “Tatkala Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam datang dari suatu perjalanan, beliau menemui dua orang anak dari keluarganya. Saya berlomba untuk menghampiri nya, kemudian beliau menggendongku. Setelah itu, beliau mengajak salah satu putra Fathimah, yaitu Hasan dan Husain ra dan memboncengkan di belakangnya, sehingga kami bertiga memasuki kota madinah dan menaiki kendaraan.

 keenam:

Memperhatikan dan Menanyakan Keadaan Anak.

Sering kita temukan, seorang anak berjalan sendiri, kemudian tersesat di jalan yang di tempuhnya. Jika orang tua tanggap dan memperhatikan keadaan anak, ia akan sadar akan apa yang dialami anaknya, kemudian mencarinya dengan segera.

Sikap tanggap orang tua dalam kondisi tersebut, memainkan peran yang besar dalam jiwa anak. Keterlambatan dan kekurang tanggapan akan  menambah kecemasan, kekhawatiran, dan ketakutan anak. Kegundahannya semakin bertambah, ketika orang tua tidak segera tanggap dengan apa yang dialaminya. Karenanya, Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam bersegera dan meminta bantuan para sahabat untuk mecari di jalan-jalan sehingga menemukan kedua cucunya, Hasan dan Husain.

At-Tabrani meriwayatkan bahwa salman ra berkata, “kami berada di sekitar Rasulalah salallahu ‘alaihi wassalam,. Kemudian tiba-tiba Ummu  Aiman ra datang dan berkata, ‘Ya Rasulallah, Hasan dan Husain tersesat. Pada waktu, itu siang sudah mualai beranjak sore. Maka Nabi salallahu ‘alaihi wassalam berkata ‘ Berdirilah kalian dan carilah kedua anakku.’ Maka setiap orang mengambil arah yang berbeda. Dan aku searah dengan Nabi salallahu ‘alaihi wassalam hingga sampai di lereng gunung. Hasan dan Husain terlihat saling berangkulan ketakutan karena seeokor ular yang baru keluar dari lubangnya berdiri dengan ekornya. Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam segera mengahampiri ular tadi dan ular itu lari, masuk ke sela-sela bebatuan. Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam  salallahu ‘alaihi wassalam segera mendatangi kedua cucunya dan melepaskan rangkulan mereka dan mengusap kepalanya sambil berkata, “Demi ibu dan ayahku, semoga  Allah Swt memulaikan kalian.” Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam Kemudia menggandeng keduanya. Dan aku berkata, “Kebaikan untuk kalian berdua, sebaik baik tunggangan adalah tunggangan kalian.” Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam berkata, “Dan sebaik baik penunggang adalah keduanya dan orang tuanya lebih baik dari keduanya.”

Disini, Anda dapat melihat  bagaimana ketakutan dan kecemasan yang dialami  dan di rasakan oleh Hasan dan Husain terhadap seekor ular yang berada di depan mereka dengan saling berangkulan. Dan Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam bersegera untuk menghilangkan peraaan takut dan cemas tersebut, dengan memisahkan keduanya, mengusap kepalanya, mendoakannya, dan menampakan kasih sayangnya dangan menggandeng mereka berdua dan memujinya, dengan ucapan, “Ni’ma Ar-Rakibani Huma (sebaik-baik penunggang adalah mereka berdua).” Itu semua dilakukan Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam tiada lain karena kesungguhan dan perhatian beliau kepada perasaan dan jiwa anak agar tetap stabil dan terjaga dengan baik.

ketujuh:

Pengawasan Khusus bagi Anak Perempuan dan Yatim.

Anak perempuan membutuhkan kasih sayang, cinta, dan pemeliharaan yang lebih besar di bandingkan dengan yang lainnya dalam membentuk kepribadian dan kejiwaannya dengan baik. Ini di perlukan, karena adanya perasaan lemah dan hilangnya unsur-unsur kekuatan dari kedua anak tersebut. Dan urusan keduanya, dalam pandangan masyarakat, lebih kecil dibandingkan dengan orang lain.

Model-model masyarakat jahiliyah walaupun berbeda dan berganti baju. Jahiliyah tempo dulu, mengibarkan bendera kezaliman secara terang-terangan, menampakannya dalam masyarakat tanpa rasa malu dan takut. Adapaun jahiliyah modern, menghiasi dan membingkai kezalimannya dengan aturan-aturan dan ajaran-ajaran yang menyesatkan serta membuka pintu kebebasan selebar-lebarnya.

Dalam model masyarakat seperti inilah, hak hidup dua kelompok anak ini hilang dan terpinggirkan. Islamlah satu-satunya ajaran yang memberikan perhatian dan pembelaan, serta melakukan perlawanan dari setiap bentuk kezaliman terhadap anak perempuan dan anak yatim.

Apa-apa yang Allah subhanahu wata’ala firmankan dalam ayat-ayat-Nya yang mulia dan yang Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam sabdakan dalam Hadits-haditsnya, terkait dengan dua hal ini, tiada lain merupakan dalil dari apa yang telah kemi jelaskan di muka.

Dari sanalah Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam memberikan  peringatan dan nasihat tentang keberadaan dua anak tersebut, dengan sabdanya,

“sesungguhnya saya menekankan kalian akan hak dua orang lemah ini yaitu anak yatim dan anak perempuan.” (Al-Hakim, Al-Baihaqi meriwayatkan dalam Asy-Syu’ab dari Abu Hurairah. Ibnu Majah, Imam Ahmad dan Ibnu Hibaban meriwayatkan dalam shahihnya)

Demikianlah  7 Tips Cara mendidik anak yang baik menurut islam

Semoga kita bias menjadi orang tua yang bisa menerapkan tips-tips tersebut aamiin. Allohu a’lam

*Sumber bacaan: cara nabi mendidik anak (Ir.Muhammad Ibnu Abdul Hafidz Suwaid)

 

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *